Tuesday, May 6, 2008

TEORI GAIA

Bagi mereka yang menjadi pemerhati iklan atau dejavu bahwa ada iklan Sanyo dengan slogan “Think Gaia. For Life and The Earth.” Istilah Gaia ini sendiri, meskipun cuma terdiri dari empat huruf, namun mengandung makna sangat mendalam bahkan memengaruhi hajat hidup manusia yang tinggal di atas bumi ini. Istilah Gaia diambil dari nama dewi pada mitologi Yunani. Apabila diruntut ke belakang, istilah itu dikemukakan pertama kali oleh James Lovelock pada kisaran awal tahun 1970-an sebagai suatu teori, sebelum populer setelah terbit bukunya yang berjudul Gaia: the new look at life on Earth pada tahun 1979.

James Lovelock adalah seorang ilmuwan sekaligus peneliti bebas NASA mencetuskan hipotesis Gaia ketika mengamati planet Mars. Dikatakan Gaia adalah cara untuk menjelaskan fakta tentang kombinasi-kombinasi dari unsur-unsur kimia termasuk oksigen dan metana dalam konsentrasi stabil yang terdapat di atmosfir bumi. Pengukuran dari kombinasi oksigen dan metana di atmosfir bumi ini dapat dipakai sebagai cara murah dan handal untuk mendeteksi kualitas kehidupan di planet-planet lain. Selanjutnya hipotesis ini berkembang menjadi teori. Teori Gaia menyebut bahwa bumi memiliki kehidupannya sendiri, seperti halnya organisme tunggal, hidup yang sangat besar dan setiap bagian dari ekosistem bereaksi dengan barang-barang lain, meskipun tidak ada hubungan yang jelas. Jika suatu bagian dari sistem mendapat tekanan maka bumi akan bereaksi secara spontan untuk mengatasi problem tersebut. Dengan kata lain, planet bumi ini dapat ‘menyembuhkan’ dirinya sendiri apabila mengalami kerusakan.

Memang kesadaran para penghuni bumi ini baru cukup tergugah ketika bencana alam datang silih berganti di belahan dunia mana pun. Tahun 2004, tsunami yang meluluh-lantakan propinsi Aceh juga melibas Thailand dan Srilanka pada saat bersamaan. Topan Katrina pada Agustus 2005 menghancurkan New Orleans menjadi contoh nyata bahwa negara maju pun tidak berdaya menangkal bencana alam skala besar yang bermula dari teluk Meksiko ini setahun kemudian. Angin puyuh, langsor dan banjir hampir menimpa semua negara mulai dari India, China dan Bangladesh sampai Jerman, Perancis dan Australia pada tahun 2007 ini makin tinggi intensitasnya. Bahkan gempa bumi silih berganti datang ke negara pelanggan tetap seperti Jepang atau negara-negara yang terletak pada sesar-sesar seperti di Amerika Latin, Indonesia bahkan California.

Intensitas gejala alam yang disebut di atas memunyai tren terus meningkat sesuai yang disebutkan dalam buku “The Winds of Change” karya Eugene Linden dan majalah National Geographic edisi Oktober 2007 menyajikan statistik bahwa bumi tempat kita bernaung ini sedang dan terus bergolak., Pada dekade awal abad 20, sebagai contoh, statistik bencana alam selama 10 tahun, kalah jauh jika dibandingkan bencana alam pada, katakanlah, tahun 2007 saja. Tudingan pertama penyebab semua itu adalah pemanasan global yang diakibatkan oleh hancurnya ‘paru-paru’ dunia berupa hutan-hutan Amazon di Brasil dan Kalimantan serta berubahnya hutan menjadi pohon kelapa sawit di Sumatera dan Malaysia. Beruntunglah kita bahwa masih ada hutan di Irian belum terlampau rusak. Rentetan dampak peningkatan suhu di permukaan bumi ini membuat sebagian gunung es di kutub mencair. Selama 100 tahun terakhir, suhu permukaan bumi meningkat 0,74° Celcius. Naiknya panas ini membawa dampak naiknya permukaan air laut 3,1 mm per tahun.

Apabila tidak ada tindakan pencegahan yang mulai harus dilakukan pada hari ini lewat kesadaran orang di seluruh dunia, maka tidak mustahil pada abad mendatang akan terjadi peningkatan suhu antara 1,1° C – 6,4°C. Dampak global yang terjadi adalah perlu tempat pengungsian di lokasi yang lebih tinggi karena penduduk kota-kota besar yang terletak di tepi pantai seperti New York, Tokyo, Hongkong dan tentunya, Jakarta sudah berubah menjadi lautan.

Kesadaran manusia berusaha terus digugah atas kemenangan Al Gore sebagai pemenang Nobel untuk perdamaian tahun 2007. Dalam posisinya sebagai penyuara Uniter Nations’ Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), Al Gore menyuarakan tentang perlunya digalang kekuatan antar negara untuk menanggulangi bahaya karena terus meningkatnya suhu di permukaan bumi. Aktivitas manusia lewat penggunakan bakar hidrokarbon, sebagai contoh, memberi dampak luas terhadap perubahan iklim. Sedikit janggal memang bahwa pemenang Nobel perdamaian bukanlah seorang politisi atau negarawan seperti biasanya namun seseorang yang perduli dengan lingkungan.

Gore berusaha menggugah kesadaran dengan memberikan data. Bukti dan fakta tentang bumi yang mulai tidak nyaman ini yang dipaparkan oleh Al Gore dalam buku maupun DVD yang berjudul ”An Unconvenient Truth: The Crisis of Global Warming.” Data dan fakta yang disajikan menguatkan hipotesis bahwa bumi yang kita semua huni ini sedang berubah dan semua perubahan itu diakibatkan oleh ulah manusia. Banyak tindakan yang dilakukan untuk mengurangi dampak tersebut. Carbon trading, dan sertifikasi (hijau) yang dibuat oleh setiap negara minimal dapat mengurangi dampak, meskipun belum terlalu signifikan.

Teori Gaia dapat disebut sebagai wacana baru guna melihat bumi dan keterhubungannya dengan para penghuni memasuki babak yang selama ini belum pernah dipikirkan. Ditawarkan oleh teori ini adalah wawasan tentang perubahan iklim, pola taman, energi, pertanian, kesehatan yang dapat dikatakan penting atau mendesak.

No comments: