Wednesday, May 14, 2008

Edutainment ala Matsushita

Maret 1923, Matsushita (diambil dari nama pendirinya, Konosuke Matsushita. Dalam perkembangannya kemudian memakai merek National dan Panasonic) mulai memproduksi lampu bateri untuk sepeda. Pada saat itu hanya dikenal 3 jenis lampu untuk sepeda, yaitu: lampu lilin, lampu gas (acetylene) dan berbagai jenis lampu bateri. Ketiga jenis lampu mempunyai problem yang berbeda. Lampu lilin mudah padam karena terpaan angin, dan menjaganya agar tetap menyala. Lampu gas kurang praktis dan mahal harganya. Lampu bateri yang pertama kali dijual, sangatlah sederhana, hanya mampu menyala 2 sampai 3 jam saja.
Bagaimana menciptakan lampu bateri yang mampu tahan lama? Setelah enam bulan melakukan percobaan dengan ratusan model lampu yang dirancang, akhirnya ditemukan satu yang sesuai. Model baru lampu bateri dengan penutup terbuat dari kayu. Merasa yakin akan sukses di pasar karena lampu ini tahan 30 sampai 50 jam – sepuluh kali lebih lama dari lampu bateri yang ada di pasar. Ditunjang dengan harga jual dapat lebih murah dari lampu lilin, maka lampu ini akan mudah terjual dan diputuskan untuk memproduksi secara besar-besaran.
Promosi penjualan mulai digelar tepai menghadapi kendala yang tidak terduga. Pasar belum siap menerima lampu bateri tahan lama. Keyakinan bahwa tidak ada bateri mampu bertahan lebih dari 2 sampai 3 jam telah lama mengakar, dan hal itu membuat perusahaan justru kehilangan kredibilitas.
Distributor dan pengecer ternyata mempunyai tanggapan yang sama. Makin dicoba dijelaskan kehebatan bateri, makin takut mereka menjual. Sebuah akhir yang ironis, mengetahui kehebatan produk dan berpikir bahwa pemakai akan senang, ternyata ditolak. Kata-kata saja tidaklah cukup untuk meyakinkan orang tentang bagaimana betapa hebatnya lampu. Sekarang tindakan yang harus dilakukan adalah, bagaimana mengubah pikiran orang ? Tindakan apapun yang harus diambil haruslah cepat karena gudang sudah penuh.

Setelah beberapa sesi pertemuan, akhirnya diputuskan untuk menyewa orang untuk pergi berkeliling ke sekitar toko-toko sepeda dengan membawa lampu tersebut. Di sama mereka harus menyalakan lampu itu sampai bateri habis. Dangan cara ini, distributor dan calon pembeli, diberi peragaan tentang betapa tahan lamanya bateri produksi Matsushita. Cara ini bukan tanpa risiko. Distributor tidak mepunyai kewajiban untuk membeli. Begitu pula, bagi perusahaan kecil, membagikan produk contoh adalah taruhan besar. Jika lampu tidak laku dijual, maka menunjukkan bahwa produk dan kebijakan manajemen gagal. Keyakinan akan kualitas bateri ini dan menyadarkan konsumen akan kehebatan, membuat penjualan akan bagus.
Pesanan mulai datang dari para distributor, yang merekomendasikan lampu ini untuk mereka. Akahirnya lampu ini menjadi lampu favorit di seluruh Jepang. Kisah ini membuktikan pepatah, “Tidak ada yang dipertaruhkan, tidak ada yang diperoleh.” Apabila seseorang menghindari resiko, dia tidak akan pernah mendapatkan sesuatu dalam jumlah besar.
(Disarikan dari “Not for Bread Alone” karangan Konosuke Matsushita)

No comments: