Perangkap-perangkap dalam Pengambilan Keputusan
I. Anchoring Traps
Perangkap yang muncul dari data yang tersimpan di benak kita sulit dihapus. Misal: apakah penduduk Turki > 35 juta? Lokasi negara manalah yang cocok untuk tempat tinggal 35 juta penduduk?
Tanpa meneliti kesahihan pertanyaan 1 namun mempengaruhi anda saat menjawab pertanyaan 2.
Solusi:
a. Pandang dari aspek lain
b. Cari solusi sendiri agar tidak dipengaruhi ide-ide orang lain.
c. Cari informasi dari pihak-pihak yang berbeda.
d. Biasa dipakai oleh penasihat, konsultan dalam melakukan nogosiasi.
II. Status-Quo Traps
Terjadi karena dalam lubuk hati kita ada keinginan untuk melindungi ego kita agar tidak rusak. Misal: mobil kuno, maka otak kita terasosiasi dengan suatu bentuk mobil tertentu yang kita pahami. Contoh: orang diberi hadiah dengan harga sama (coklat atau cangkir), namun ketika ada orang yang mendapatkan coklat ingin menukar dengan yang memperoleh cangkir, timbul pikiran si pemilik cangkir bahwa harga cangkir lebih mahal.
Solusi:
a. Ingat tujuan yang ingin dicapai.
b. Pikirkan bahwa status quo bukan satu-satunya alternatif.
c. Status quo tidak mampu bertahan lama
d. Jika ada berbagai pilihan, jangan ambil status quo jika punya banyak waktu
III. Sunk Cost Traps
Pilihan diambil dengan mendasarkan diri pada pilihan yang diambil pada masa lalu, meskipun pilihan itu sudah tidak sahih lagi. Misal: beli saham atau reksadana dan merugi namun tidak mau melepaskan meskipun ada pilihan investasi lain yang lebih menguntungkan.
Solusi:
a. Dengarkan pendapat dari orang yang tidak terlibat dalam keputusan pertama.
b. Mengaji kesalahan dulu yang menghantui anda.
c. Meminta rekomendasi dari bawahan.
d. Hilangkan budaya takut-salah yang membuat bawahan ragu.
IV. Confirming-Evidence Traps
Ada tendensi kita memutuskan secara tidak sadar apa yang ingin kita lakukan sebelum kita mengetahui mengapa kita ingin melakukan serta tendensi kita untuk melakukan apa yang kita suka daripada apa yang tidak kita sukai. Misal: sebuah pabrik melakukan investasi ke mancanegara setelah ada peraturan Pemerintah, serta merta kita menganggap bahwa hal tersebut pasti menguntungkan kita.
Solusi:
a. Periksa bukti dan data sebelum mengkonfirmasikan bukti atau data tanpa berusaha mempertanyakan lagi.
b. Cari orang-orang yang mempunyai pendapat berbeda.
c. Jujurlah dengan diri sendiri terhadap motivasi anda.
d. Saat meminta pendapat orang lain, jangan sepertinya meminta konfirmasi atas pendapat anda sendiri.
V. Framing Traps
Sebelum membuat keputusan dilakukan pembatasan terhadap pertanyaan. Hal ini memberi dampak terhadap pilihan-pilihan yang harus diambil.
Solusi:
a. Jangan membatasi diri.
b. Ambil posisi netral dengan melihat manfaat dan biaya.
c. Dalam proses berpikir, pikiran anda akan berubah begitu tidak ada batasan (frame).
d. Jika orang lain mengambil keputusan atas problem dengan kerangka tertentu, coba debat mereka dengan kerangka berbeda.
VI. Estimating and Forecasting Traps
Kita terbiasa melakukan prakiraan terhadap waktu, berat, jarak dan volume. Kebiasaan ini membuat pikiran kita punya kalibrasi. Tidak mengherankan apabila prakiraan digunakan meskipun tidak ada umpan-balil. Misal: harga minyak dunia $68, dengan melihat data beberapa tahun silam dibuat tren.
Kesalahan yang dapat terjadi adalah: overconfidence trap, prudence trap & recallability trap.
Solusi:
a. Mengurangi terlalu percaya diri awali dengan hal yang ekstrim.
b. Menghindari prudence trap dengan secara jujur menganalisis tanpa melakukan penyesuaian.
c. Mengurangi recallability trap secara cermat menganalisis asumsi
Friday, May 16, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment