Build Blue Ocean Strategy
Melewati 5(lima) tahapan, yaitu:
1. Reconstruct market boundaries
- Look across alternative industries
- Look across strategic groups within industries
- Look across the chain of buyers
- Look across complementary product & service offerings
- Look across functional or emotional appeal to buyers
- Look across time
2. Focus on the big picture, not the numbers. Drawing strategic canvas.
- Visual awekening
- Visual exploration
- Visual strategy fair (Eliminate, raise, reduce, create)
- Visual communication
3. Reach beyond existing demand ->3 tiers of non-customers
4. Get the strategic sequence right.
5. Six stages of buyers experience cycle: purchase, delivery, use, supplements, maintainance, disposal.
Remember:
· Utility, price & cost to adoption
· Overcome key organizational hurdles (hot/cold spot, kingpin etc.)
Build execution into strategy
Tiga prinsip proses yang setara (fair)
1. Engagement (keterlibatan). Menyangkut keterlibatan individu-individu dalam pengambilan keputusan strategik yang membawa dampak bagi mereka dengan meminta masukan (input) dan membiarkan mereka untuk saling bertukar pendapat dengan ide-ide dan asumsi-asumsi orang lain. Setiap perbedaan didukung dengan alasan-alasannya. Hasilnya adalah keputusan strategik yang lebih baik oleh manajemen dan komitmen mereka yang terlibat dalam eksekusi atau pelaksanaan.
2. Explanation (penjelasan). Menyangkut setiap orang yang terlibat dan terkena dampaknya sampai dapat memahami mengapa keputusan-keputusan strategik tersebut harus diambil.
3. Expectation clarity (kejelasan pengharapan). Setelah strategi dibuat, manajer menyatakan dengan jelas aturan mainnya. Meskipun pengharapan ini terlalu menuntut, namun setiap karyawan terlebih dahulu sudah menyatakan tolok-ukur apa saja yang dipakai guna menentukan seseorang berhasil atau gagal.
Monday, May 19, 2008
Friday, May 16, 2008
Perangkap-perangkap dalam Pengambilan Keputusan
I. Anchoring Traps
Perangkap yang muncul dari data yang tersimpan di benak kita sulit dihapus. Misal: apakah penduduk Turki > 35 juta? Lokasi negara manalah yang cocok untuk tempat tinggal 35 juta penduduk?
Tanpa meneliti kesahihan pertanyaan 1 namun mempengaruhi anda saat menjawab pertanyaan 2.
Solusi:
a. Pandang dari aspek lain
b. Cari solusi sendiri agar tidak dipengaruhi ide-ide orang lain.
c. Cari informasi dari pihak-pihak yang berbeda.
d. Biasa dipakai oleh penasihat, konsultan dalam melakukan nogosiasi.
II. Status-Quo Traps
Terjadi karena dalam lubuk hati kita ada keinginan untuk melindungi ego kita agar tidak rusak. Misal: mobil kuno, maka otak kita terasosiasi dengan suatu bentuk mobil tertentu yang kita pahami. Contoh: orang diberi hadiah dengan harga sama (coklat atau cangkir), namun ketika ada orang yang mendapatkan coklat ingin menukar dengan yang memperoleh cangkir, timbul pikiran si pemilik cangkir bahwa harga cangkir lebih mahal.
Solusi:
a. Ingat tujuan yang ingin dicapai.
b. Pikirkan bahwa status quo bukan satu-satunya alternatif.
c. Status quo tidak mampu bertahan lama
d. Jika ada berbagai pilihan, jangan ambil status quo jika punya banyak waktu
III. Sunk Cost Traps
Pilihan diambil dengan mendasarkan diri pada pilihan yang diambil pada masa lalu, meskipun pilihan itu sudah tidak sahih lagi. Misal: beli saham atau reksadana dan merugi namun tidak mau melepaskan meskipun ada pilihan investasi lain yang lebih menguntungkan.
Solusi:
a. Dengarkan pendapat dari orang yang tidak terlibat dalam keputusan pertama.
b. Mengaji kesalahan dulu yang menghantui anda.
c. Meminta rekomendasi dari bawahan.
d. Hilangkan budaya takut-salah yang membuat bawahan ragu.
IV. Confirming-Evidence Traps
Ada tendensi kita memutuskan secara tidak sadar apa yang ingin kita lakukan sebelum kita mengetahui mengapa kita ingin melakukan serta tendensi kita untuk melakukan apa yang kita suka daripada apa yang tidak kita sukai. Misal: sebuah pabrik melakukan investasi ke mancanegara setelah ada peraturan Pemerintah, serta merta kita menganggap bahwa hal tersebut pasti menguntungkan kita.
Solusi:
a. Periksa bukti dan data sebelum mengkonfirmasikan bukti atau data tanpa berusaha mempertanyakan lagi.
b. Cari orang-orang yang mempunyai pendapat berbeda.
c. Jujurlah dengan diri sendiri terhadap motivasi anda.
d. Saat meminta pendapat orang lain, jangan sepertinya meminta konfirmasi atas pendapat anda sendiri.
V. Framing Traps
Sebelum membuat keputusan dilakukan pembatasan terhadap pertanyaan. Hal ini memberi dampak terhadap pilihan-pilihan yang harus diambil.
Solusi:
a. Jangan membatasi diri.
b. Ambil posisi netral dengan melihat manfaat dan biaya.
c. Dalam proses berpikir, pikiran anda akan berubah begitu tidak ada batasan (frame).
d. Jika orang lain mengambil keputusan atas problem dengan kerangka tertentu, coba debat mereka dengan kerangka berbeda.
VI. Estimating and Forecasting Traps
Kita terbiasa melakukan prakiraan terhadap waktu, berat, jarak dan volume. Kebiasaan ini membuat pikiran kita punya kalibrasi. Tidak mengherankan apabila prakiraan digunakan meskipun tidak ada umpan-balil. Misal: harga minyak dunia $68, dengan melihat data beberapa tahun silam dibuat tren.
Kesalahan yang dapat terjadi adalah: overconfidence trap, prudence trap & recallability trap.
Solusi:
a. Mengurangi terlalu percaya diri awali dengan hal yang ekstrim.
b. Menghindari prudence trap dengan secara jujur menganalisis tanpa melakukan penyesuaian.
c. Mengurangi recallability trap secara cermat menganalisis asumsi
I. Anchoring Traps
Perangkap yang muncul dari data yang tersimpan di benak kita sulit dihapus. Misal: apakah penduduk Turki > 35 juta? Lokasi negara manalah yang cocok untuk tempat tinggal 35 juta penduduk?
Tanpa meneliti kesahihan pertanyaan 1 namun mempengaruhi anda saat menjawab pertanyaan 2.
Solusi:
a. Pandang dari aspek lain
b. Cari solusi sendiri agar tidak dipengaruhi ide-ide orang lain.
c. Cari informasi dari pihak-pihak yang berbeda.
d. Biasa dipakai oleh penasihat, konsultan dalam melakukan nogosiasi.
II. Status-Quo Traps
Terjadi karena dalam lubuk hati kita ada keinginan untuk melindungi ego kita agar tidak rusak. Misal: mobil kuno, maka otak kita terasosiasi dengan suatu bentuk mobil tertentu yang kita pahami. Contoh: orang diberi hadiah dengan harga sama (coklat atau cangkir), namun ketika ada orang yang mendapatkan coklat ingin menukar dengan yang memperoleh cangkir, timbul pikiran si pemilik cangkir bahwa harga cangkir lebih mahal.
Solusi:
a. Ingat tujuan yang ingin dicapai.
b. Pikirkan bahwa status quo bukan satu-satunya alternatif.
c. Status quo tidak mampu bertahan lama
d. Jika ada berbagai pilihan, jangan ambil status quo jika punya banyak waktu
III. Sunk Cost Traps
Pilihan diambil dengan mendasarkan diri pada pilihan yang diambil pada masa lalu, meskipun pilihan itu sudah tidak sahih lagi. Misal: beli saham atau reksadana dan merugi namun tidak mau melepaskan meskipun ada pilihan investasi lain yang lebih menguntungkan.
Solusi:
a. Dengarkan pendapat dari orang yang tidak terlibat dalam keputusan pertama.
b. Mengaji kesalahan dulu yang menghantui anda.
c. Meminta rekomendasi dari bawahan.
d. Hilangkan budaya takut-salah yang membuat bawahan ragu.
IV. Confirming-Evidence Traps
Ada tendensi kita memutuskan secara tidak sadar apa yang ingin kita lakukan sebelum kita mengetahui mengapa kita ingin melakukan serta tendensi kita untuk melakukan apa yang kita suka daripada apa yang tidak kita sukai. Misal: sebuah pabrik melakukan investasi ke mancanegara setelah ada peraturan Pemerintah, serta merta kita menganggap bahwa hal tersebut pasti menguntungkan kita.
Solusi:
a. Periksa bukti dan data sebelum mengkonfirmasikan bukti atau data tanpa berusaha mempertanyakan lagi.
b. Cari orang-orang yang mempunyai pendapat berbeda.
c. Jujurlah dengan diri sendiri terhadap motivasi anda.
d. Saat meminta pendapat orang lain, jangan sepertinya meminta konfirmasi atas pendapat anda sendiri.
V. Framing Traps
Sebelum membuat keputusan dilakukan pembatasan terhadap pertanyaan. Hal ini memberi dampak terhadap pilihan-pilihan yang harus diambil.
Solusi:
a. Jangan membatasi diri.
b. Ambil posisi netral dengan melihat manfaat dan biaya.
c. Dalam proses berpikir, pikiran anda akan berubah begitu tidak ada batasan (frame).
d. Jika orang lain mengambil keputusan atas problem dengan kerangka tertentu, coba debat mereka dengan kerangka berbeda.
VI. Estimating and Forecasting Traps
Kita terbiasa melakukan prakiraan terhadap waktu, berat, jarak dan volume. Kebiasaan ini membuat pikiran kita punya kalibrasi. Tidak mengherankan apabila prakiraan digunakan meskipun tidak ada umpan-balil. Misal: harga minyak dunia $68, dengan melihat data beberapa tahun silam dibuat tren.
Kesalahan yang dapat terjadi adalah: overconfidence trap, prudence trap & recallability trap.
Solusi:
a. Mengurangi terlalu percaya diri awali dengan hal yang ekstrim.
b. Menghindari prudence trap dengan secara jujur menganalisis tanpa melakukan penyesuaian.
c. Mengurangi recallability trap secara cermat menganalisis asumsi
Wednesday, May 14, 2008
Edutainment ala Matsushita
Maret 1923, Matsushita (diambil dari nama pendirinya, Konosuke Matsushita. Dalam perkembangannya kemudian memakai merek National dan Panasonic) mulai memproduksi lampu bateri untuk sepeda. Pada saat itu hanya dikenal 3 jenis lampu untuk sepeda, yaitu: lampu lilin, lampu gas (acetylene) dan berbagai jenis lampu bateri. Ketiga jenis lampu mempunyai problem yang berbeda. Lampu lilin mudah padam karena terpaan angin, dan menjaganya agar tetap menyala. Lampu gas kurang praktis dan mahal harganya. Lampu bateri yang pertama kali dijual, sangatlah sederhana, hanya mampu menyala 2 sampai 3 jam saja.
Bagaimana menciptakan lampu bateri yang mampu tahan lama? Setelah enam bulan melakukan percobaan dengan ratusan model lampu yang dirancang, akhirnya ditemukan satu yang sesuai. Model baru lampu bateri dengan penutup terbuat dari kayu. Merasa yakin akan sukses di pasar karena lampu ini tahan 30 sampai 50 jam – sepuluh kali lebih lama dari lampu bateri yang ada di pasar. Ditunjang dengan harga jual dapat lebih murah dari lampu lilin, maka lampu ini akan mudah terjual dan diputuskan untuk memproduksi secara besar-besaran.
Promosi penjualan mulai digelar tepai menghadapi kendala yang tidak terduga. Pasar belum siap menerima lampu bateri tahan lama. Keyakinan bahwa tidak ada bateri mampu bertahan lebih dari 2 sampai 3 jam telah lama mengakar, dan hal itu membuat perusahaan justru kehilangan kredibilitas.
Distributor dan pengecer ternyata mempunyai tanggapan yang sama. Makin dicoba dijelaskan kehebatan bateri, makin takut mereka menjual. Sebuah akhir yang ironis, mengetahui kehebatan produk dan berpikir bahwa pemakai akan senang, ternyata ditolak. Kata-kata saja tidaklah cukup untuk meyakinkan orang tentang bagaimana betapa hebatnya lampu. Sekarang tindakan yang harus dilakukan adalah, bagaimana mengubah pikiran orang ? Tindakan apapun yang harus diambil haruslah cepat karena gudang sudah penuh.
Setelah beberapa sesi pertemuan, akhirnya diputuskan untuk menyewa orang untuk pergi berkeliling ke sekitar toko-toko sepeda dengan membawa lampu tersebut. Di sama mereka harus menyalakan lampu itu sampai bateri habis. Dangan cara ini, distributor dan calon pembeli, diberi peragaan tentang betapa tahan lamanya bateri produksi Matsushita. Cara ini bukan tanpa risiko. Distributor tidak mepunyai kewajiban untuk membeli. Begitu pula, bagi perusahaan kecil, membagikan produk contoh adalah taruhan besar. Jika lampu tidak laku dijual, maka menunjukkan bahwa produk dan kebijakan manajemen gagal. Keyakinan akan kualitas bateri ini dan menyadarkan konsumen akan kehebatan, membuat penjualan akan bagus.
Pesanan mulai datang dari para distributor, yang merekomendasikan lampu ini untuk mereka. Akahirnya lampu ini menjadi lampu favorit di seluruh Jepang. Kisah ini membuktikan pepatah, “Tidak ada yang dipertaruhkan, tidak ada yang diperoleh.” Apabila seseorang menghindari resiko, dia tidak akan pernah mendapatkan sesuatu dalam jumlah besar.
(Disarikan dari “Not for Bread Alone” karangan Konosuke Matsushita)
Maret 1923, Matsushita (diambil dari nama pendirinya, Konosuke Matsushita. Dalam perkembangannya kemudian memakai merek National dan Panasonic) mulai memproduksi lampu bateri untuk sepeda. Pada saat itu hanya dikenal 3 jenis lampu untuk sepeda, yaitu: lampu lilin, lampu gas (acetylene) dan berbagai jenis lampu bateri. Ketiga jenis lampu mempunyai problem yang berbeda. Lampu lilin mudah padam karena terpaan angin, dan menjaganya agar tetap menyala. Lampu gas kurang praktis dan mahal harganya. Lampu bateri yang pertama kali dijual, sangatlah sederhana, hanya mampu menyala 2 sampai 3 jam saja.
Bagaimana menciptakan lampu bateri yang mampu tahan lama? Setelah enam bulan melakukan percobaan dengan ratusan model lampu yang dirancang, akhirnya ditemukan satu yang sesuai. Model baru lampu bateri dengan penutup terbuat dari kayu. Merasa yakin akan sukses di pasar karena lampu ini tahan 30 sampai 50 jam – sepuluh kali lebih lama dari lampu bateri yang ada di pasar. Ditunjang dengan harga jual dapat lebih murah dari lampu lilin, maka lampu ini akan mudah terjual dan diputuskan untuk memproduksi secara besar-besaran.
Promosi penjualan mulai digelar tepai menghadapi kendala yang tidak terduga. Pasar belum siap menerima lampu bateri tahan lama. Keyakinan bahwa tidak ada bateri mampu bertahan lebih dari 2 sampai 3 jam telah lama mengakar, dan hal itu membuat perusahaan justru kehilangan kredibilitas.
Distributor dan pengecer ternyata mempunyai tanggapan yang sama. Makin dicoba dijelaskan kehebatan bateri, makin takut mereka menjual. Sebuah akhir yang ironis, mengetahui kehebatan produk dan berpikir bahwa pemakai akan senang, ternyata ditolak. Kata-kata saja tidaklah cukup untuk meyakinkan orang tentang bagaimana betapa hebatnya lampu. Sekarang tindakan yang harus dilakukan adalah, bagaimana mengubah pikiran orang ? Tindakan apapun yang harus diambil haruslah cepat karena gudang sudah penuh.
Setelah beberapa sesi pertemuan, akhirnya diputuskan untuk menyewa orang untuk pergi berkeliling ke sekitar toko-toko sepeda dengan membawa lampu tersebut. Di sama mereka harus menyalakan lampu itu sampai bateri habis. Dangan cara ini, distributor dan calon pembeli, diberi peragaan tentang betapa tahan lamanya bateri produksi Matsushita. Cara ini bukan tanpa risiko. Distributor tidak mepunyai kewajiban untuk membeli. Begitu pula, bagi perusahaan kecil, membagikan produk contoh adalah taruhan besar. Jika lampu tidak laku dijual, maka menunjukkan bahwa produk dan kebijakan manajemen gagal. Keyakinan akan kualitas bateri ini dan menyadarkan konsumen akan kehebatan, membuat penjualan akan bagus.
Pesanan mulai datang dari para distributor, yang merekomendasikan lampu ini untuk mereka. Akahirnya lampu ini menjadi lampu favorit di seluruh Jepang. Kisah ini membuktikan pepatah, “Tidak ada yang dipertaruhkan, tidak ada yang diperoleh.” Apabila seseorang menghindari resiko, dia tidak akan pernah mendapatkan sesuatu dalam jumlah besar.
(Disarikan dari “Not for Bread Alone” karangan Konosuke Matsushita)
Monday, May 12, 2008
Meninggalkan Microsoft Memulai ‘Room to Read’
Anda menyukai kisah petualangan? Cobalah membaca buku ”Leaving Microsoft to Change the World” karya John Wood. Buku ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian Pertama adalah kisah perjalanan John Wood di kala mengambil cuti, ketika masih bekerja di Microsoft, memilih menghabiskan liburan di tempat terpencil, Nepal. Bagian kedua, berkisah tentang awal-awal merintis apa yang kelak disebut ‘Room to Read.’ Mulai dari kebimbangan dalam mengambil keputusan untuk meninggalkan Microsoft, kesulitan menggalang dana, mencari orang dengan misi sama dan punya komitmen di negara-negara tempat beroperasi. Termasuk di sini adalah kiat-kiat yang menjadi pengalaman saat masih di Microsoft dipraktekkan guna membesarkan ‘Room to Read.’ Bagian ketiga, adalah langkah-langkah untuk menjaga momentum kedermawanan global, kehidupan pribadi yang dirasakan amburadul namun memperoleh kegembiraan dan kepuasan mendalam, perjalanan terus-menerus ke negara-negara donor atau negara-negara dimana peristiwa pembukaan sekolah baru, perpustakaan baru masih diselingi dengan suasana donasi di Amerika paska 11 September 2001. Tsunami pada penghujung tahun 2004 yang membawa banyak korban manusia di Indonesia, Thailand, India dan Srilanka serta meluluh-lantakkan bangunan dan prasarana di tepi pantai, termasuk sekolah-sekolah, mampu membuat negara Srilanka masuk ke dalam target ‘Room to Read’ tanpa banyak waktu untuk berpikir lagi. Saat ini ‘Room to Read’ banyak beroperasi di negara-negara di benua Asia seperti Nepal, Vietnam, India, Kamboja dan Srilanka.
---o0o---
Penulis menuturkan perjalanan hidupnya ini diawali ketika menginap di losmen kecil bertemu dengan tamu lain yang menginap, guna melanjutkan perjalanan. Tanpa mengetahui pekerjaan tamu itu, namun karena jalan yang akan dilalui sama, maka berdua mereka sepakat berangkat bersama keesokan harinya. Terlihat perbincangan selama diperjalanan, sebelum diketahui bahwa dia adalah seorang pegawai pemerintah Propinsi Lamjung bernama Pasupathi yang bertanggung jawab untuk menemukan sumber-sumber daya bagi 17 sekolah di Propinsi pedalaman ini. Paparan orang ‘dalam’ tentang anak-anak putus sekolah, angka buta huruf Nepal yang ternyata tertinggi di dunia membuka keingintahuan penulis untuk meninjau sekolah yang akan dikunjungi oleh Pasupathi. Dalam perjalanan itu, mereka berbincang sebelum sampai di sekolah. Penulis paling terkesan setelah melihat bagian ‘sakral’ sekolah yang disebut perpustakaan. Ruangan yang paling rahasia ini, karena dikunci rapat, hanya berisi buku ‘peninggalan’ turis yang tidak layak dibaca anak-anak. Kondisi memprihatikan ini mampu membuat penulis terkenang dengan masa kecil, dimana, baginya, perpustakaan adalah tempat untuk menimba ilmu dari buku. Dengan keterbasan dana pribadi untuk membeli buku, maka perpustakaan umum di kota yang cukup jauh dijalani dengan mengendarai sepeda dan masih berkutat dengan kuota jumlah buku yang dapat dibawa pulang. Ingatan masa kecil ini menggugah nurani penulis untuk membantu pengadaan buku terlebih setelah guru bahasa Inggris mengatakan “Kami mohon, Pak, saat Anda kembali nanti dengan buku-buku. Anda akan disambut dengan gembira, kepala mereka akan membentur langit-langit karena melompat-lompat kegirangan.”
Permohonan sederhana yang diucapkan ini ternyata mampu memberi kesan mendalam baginya, karena menjelang pergi dari Kathmandu, menyempatkan diri mengirim email kepada teman, kenalan dan orang tuanya tentang keinginannya mengumpulkan buku-buku bacaan anak-anak bekas yang dapat didonasikan kepada anak-anak sekolah di Nepal. Lewat email kepada para teman-teman dan kedua orang tuaya digalang pengumpulan buku bekas. Ayahnya di Amerika, sangat antusias dengan gagasan itu, dan hal ini justru mampu mencairkan hubungannya dengan sang ayah. Sudah sejak lama tidak terlibat pembicaraan intim, namun dalam proyek ini sama-sama saling tolong bahkan berangkat bersama ke Nepal untuk membagikan buku serta menyaksikan pembangunan gedung sekolah.
Hal yang menarik adalah ketika dirinya berpikir untuk meninggalkan Microsoft. Di Microsoft, penulis menduduki pos penting di Sydney sebelum dipindahkan ke Beijing guna lebih mudah mengawasi Asia Pasifik. Beijing yang disebutnya tidak mempunyai udara bersih. Hal ini cukup mengganggunya, karena dia seorang pelari jarak jauh dan peserta marathon di Boston. Tidak dapat langsung menuruti kehendak hatinya, dengan beraksi sosial, karena ada dua hal yang cukup memberatkan baginya, sebelum mengambil keputusan meninggalkan Microsoft, yaitu hubungan dengan atasan dan teman wanitanya. Kepada atasan, relatif mudah diselesaikan, dengan alasan yang sedikit masuk akal. (Ingat: untuk bekerja di Microsoft tidak mudah), maka dia dapat melenggang bebas. Kepada teman wanita yang saudah membina hubungan selama setahun relatif lebih sulit. Sempat diwarnai keributan,namun setelah mengetahui alasan dan keinginan masing-masing pihak, maka akhirnya proses itu pun dapat dilalui.
Konflik batin paling ‘parah’ terjadi ketika bersama ayahnya membagikan buku di Nepal. Satu sisi, ada perasaan bangga mendapat tugas di Beijing dengan tugas memasarkan Window di Taiwan, mencanangkan program anti penbajakan di China dan merintis e-commerce di Hongkong, sedang pada sisi lain ada jutaan anak tidak mempunyai akses buku dan 7 dari 10 anak buta huruf seumur hidup.
Pada bagian akhir, diresapi perasaan puas, lega dan bersyukur. Tidak diduga dari semula bahwa apa yang dirintis, pada awalnya, hanya kebahagiaan melihat anak-anak sekolah mampu bersekolah, membangun tambahan gedung sekolah untuk menampung mereka yang belum dapat menikmati pendidikan, memberi bantuan bea siswa dan sekolah tersebut memiliki perpustakaan, ternyata berkembang begitu pesat dan cepat. Bayangan rasa lelah saat melakukan perjalanan naik pesawat lintas benua tanpa kunjungan dan meresmikan sekolah-sekolah di tempat terpencil terobati ketika menyaksikan itu semua.
Apakah semua itu merupakan panggilan jiwa karena pada waktu kakinya menginjak Nepal, penulis sedang membaca buku, “Art of Happiness”-nya Dalai Lama?
Ada kutipan menarik dari Paul Theroux yang disebutkan oleh penulis saat dia memberi informasi tentang Microsoft di China, menjelang kunjungan Bill Gates ke Beijing, melakukan wawancana guna disiarkan ke jaringan TV lokal, “Setelah manusia menghasilkan banyak uang, dia biasanya menjadi pendengar yang buruk.” Komentar dari penulis ini diungkapkan karena Bill Gates, saat diberi informasi, tampak tidak fokus dengan apa yang dijelaskan oleh penulis.
Ada beberapa pelajaran dari Microsoft yang diterapkan dalam membesarkan ‘Room to Read’, yaitu:
Berpikir besar yang diterjemahkan dengan dinyatakan pada ‘Room to Read’ “Tujuan kami adalah membantu 10 juta anak mendapatkan hadiah pendidikan seumur hidup.” Teladan dari Amazon yang dirintis oleh Jeff Bezon yang disebut “Toko buku terbesar di dunia” meskipun belum menjual satu buku pun serta bayangan Andrew Carnegie yang mendirikan beberapa ribu perpustakaan di dunia ketiga.
Ada pepatah di Microsoft “Anda tidak bisa menyerang seseorang, tetapi Anda bisa menyerang sebuah ide.” Para pegawai mempunyai kebebasan mengambil keputusan untuk berdebat dengan siapa pun, tentang apa pun, tanpa memperhatikan posisi setiap pribadi dalam struktur perusahaan.
Memiliki keyakinan bahwa segala sesuatu harus diukur (data) dan setiap manajer bisnis meskinya mempelajari setiap keping data yang tersedia mengenai bisnisnya. Kisah tentang Steve Ballmer yang selalu mengejar dengan pertanyaan sebelum memperoleh jawaban yang benar-benar tuntas.
Dalam suatu kesempatan Ballmer bertanya kepada tentang sertifikasi Windows NT di Thailand. “Berapa persen orang lulus ujian versi Thailand yang baru?”
“80 persen”
“Itu baik atau buruk? Saya tidak tahu karena saya tidak tahu angka kelulusan di seluruh dunia sehingga saya tidaj mempunyai data pembanding.”
“Angka kelulusan seluruh dunia 52%. Dalam 6 bulan kita telah bergerajk dari salan satu angka kelulusan terburuk di dunia menjadi salah satu yang tertinggi dan 28 poin di atas rata-rata seluruh dunia.”
Masih ada contoh-contoh lain tentang jawaban yang harus didukung oleh data akurat.
Disebutkan di penghujung buku ini bahwa hasrat adalah pemicu semua itu sebelum muncul niat. Apabila ditelusuri kembali bahwa jawaban “ya” bahwa dia akan kembali membawa buku-buku, membuat dia menjalani kehidupan yang sebelumnya tidak pernah dia bayangkan sekalipun. Di usia 40 tahun, memang cita-cita memiliki rumah di San Fransisco belum tercapai, namun mendapat kepuasan dengan memohon donasi dengan penerbangan berjam-jam, cemas ketika tiba saatnya harus gaji, menghabiskan waktu bersama para donatur setelah melakukan presentasi. Bersyukur dan bahagia adalah hasil akhirnya.
Anda menyukai kisah petualangan? Cobalah membaca buku ”Leaving Microsoft to Change the World” karya John Wood. Buku ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian Pertama adalah kisah perjalanan John Wood di kala mengambil cuti, ketika masih bekerja di Microsoft, memilih menghabiskan liburan di tempat terpencil, Nepal. Bagian kedua, berkisah tentang awal-awal merintis apa yang kelak disebut ‘Room to Read.’ Mulai dari kebimbangan dalam mengambil keputusan untuk meninggalkan Microsoft, kesulitan menggalang dana, mencari orang dengan misi sama dan punya komitmen di negara-negara tempat beroperasi. Termasuk di sini adalah kiat-kiat yang menjadi pengalaman saat masih di Microsoft dipraktekkan guna membesarkan ‘Room to Read.’ Bagian ketiga, adalah langkah-langkah untuk menjaga momentum kedermawanan global, kehidupan pribadi yang dirasakan amburadul namun memperoleh kegembiraan dan kepuasan mendalam, perjalanan terus-menerus ke negara-negara donor atau negara-negara dimana peristiwa pembukaan sekolah baru, perpustakaan baru masih diselingi dengan suasana donasi di Amerika paska 11 September 2001. Tsunami pada penghujung tahun 2004 yang membawa banyak korban manusia di Indonesia, Thailand, India dan Srilanka serta meluluh-lantakkan bangunan dan prasarana di tepi pantai, termasuk sekolah-sekolah, mampu membuat negara Srilanka masuk ke dalam target ‘Room to Read’ tanpa banyak waktu untuk berpikir lagi. Saat ini ‘Room to Read’ banyak beroperasi di negara-negara di benua Asia seperti Nepal, Vietnam, India, Kamboja dan Srilanka.
---o0o---
Penulis menuturkan perjalanan hidupnya ini diawali ketika menginap di losmen kecil bertemu dengan tamu lain yang menginap, guna melanjutkan perjalanan. Tanpa mengetahui pekerjaan tamu itu, namun karena jalan yang akan dilalui sama, maka berdua mereka sepakat berangkat bersama keesokan harinya. Terlihat perbincangan selama diperjalanan, sebelum diketahui bahwa dia adalah seorang pegawai pemerintah Propinsi Lamjung bernama Pasupathi yang bertanggung jawab untuk menemukan sumber-sumber daya bagi 17 sekolah di Propinsi pedalaman ini. Paparan orang ‘dalam’ tentang anak-anak putus sekolah, angka buta huruf Nepal yang ternyata tertinggi di dunia membuka keingintahuan penulis untuk meninjau sekolah yang akan dikunjungi oleh Pasupathi. Dalam perjalanan itu, mereka berbincang sebelum sampai di sekolah. Penulis paling terkesan setelah melihat bagian ‘sakral’ sekolah yang disebut perpustakaan. Ruangan yang paling rahasia ini, karena dikunci rapat, hanya berisi buku ‘peninggalan’ turis yang tidak layak dibaca anak-anak. Kondisi memprihatikan ini mampu membuat penulis terkenang dengan masa kecil, dimana, baginya, perpustakaan adalah tempat untuk menimba ilmu dari buku. Dengan keterbasan dana pribadi untuk membeli buku, maka perpustakaan umum di kota yang cukup jauh dijalani dengan mengendarai sepeda dan masih berkutat dengan kuota jumlah buku yang dapat dibawa pulang. Ingatan masa kecil ini menggugah nurani penulis untuk membantu pengadaan buku terlebih setelah guru bahasa Inggris mengatakan “Kami mohon, Pak, saat Anda kembali nanti dengan buku-buku. Anda akan disambut dengan gembira, kepala mereka akan membentur langit-langit karena melompat-lompat kegirangan.”
Permohonan sederhana yang diucapkan ini ternyata mampu memberi kesan mendalam baginya, karena menjelang pergi dari Kathmandu, menyempatkan diri mengirim email kepada teman, kenalan dan orang tuanya tentang keinginannya mengumpulkan buku-buku bacaan anak-anak bekas yang dapat didonasikan kepada anak-anak sekolah di Nepal. Lewat email kepada para teman-teman dan kedua orang tuaya digalang pengumpulan buku bekas. Ayahnya di Amerika, sangat antusias dengan gagasan itu, dan hal ini justru mampu mencairkan hubungannya dengan sang ayah. Sudah sejak lama tidak terlibat pembicaraan intim, namun dalam proyek ini sama-sama saling tolong bahkan berangkat bersama ke Nepal untuk membagikan buku serta menyaksikan pembangunan gedung sekolah.
Hal yang menarik adalah ketika dirinya berpikir untuk meninggalkan Microsoft. Di Microsoft, penulis menduduki pos penting di Sydney sebelum dipindahkan ke Beijing guna lebih mudah mengawasi Asia Pasifik. Beijing yang disebutnya tidak mempunyai udara bersih. Hal ini cukup mengganggunya, karena dia seorang pelari jarak jauh dan peserta marathon di Boston. Tidak dapat langsung menuruti kehendak hatinya, dengan beraksi sosial, karena ada dua hal yang cukup memberatkan baginya, sebelum mengambil keputusan meninggalkan Microsoft, yaitu hubungan dengan atasan dan teman wanitanya. Kepada atasan, relatif mudah diselesaikan, dengan alasan yang sedikit masuk akal. (Ingat: untuk bekerja di Microsoft tidak mudah), maka dia dapat melenggang bebas. Kepada teman wanita yang saudah membina hubungan selama setahun relatif lebih sulit. Sempat diwarnai keributan,namun setelah mengetahui alasan dan keinginan masing-masing pihak, maka akhirnya proses itu pun dapat dilalui.
Konflik batin paling ‘parah’ terjadi ketika bersama ayahnya membagikan buku di Nepal. Satu sisi, ada perasaan bangga mendapat tugas di Beijing dengan tugas memasarkan Window di Taiwan, mencanangkan program anti penbajakan di China dan merintis e-commerce di Hongkong, sedang pada sisi lain ada jutaan anak tidak mempunyai akses buku dan 7 dari 10 anak buta huruf seumur hidup.
Pada bagian akhir, diresapi perasaan puas, lega dan bersyukur. Tidak diduga dari semula bahwa apa yang dirintis, pada awalnya, hanya kebahagiaan melihat anak-anak sekolah mampu bersekolah, membangun tambahan gedung sekolah untuk menampung mereka yang belum dapat menikmati pendidikan, memberi bantuan bea siswa dan sekolah tersebut memiliki perpustakaan, ternyata berkembang begitu pesat dan cepat. Bayangan rasa lelah saat melakukan perjalanan naik pesawat lintas benua tanpa kunjungan dan meresmikan sekolah-sekolah di tempat terpencil terobati ketika menyaksikan itu semua.
Apakah semua itu merupakan panggilan jiwa karena pada waktu kakinya menginjak Nepal, penulis sedang membaca buku, “Art of Happiness”-nya Dalai Lama?
Ada kutipan menarik dari Paul Theroux yang disebutkan oleh penulis saat dia memberi informasi tentang Microsoft di China, menjelang kunjungan Bill Gates ke Beijing, melakukan wawancana guna disiarkan ke jaringan TV lokal, “Setelah manusia menghasilkan banyak uang, dia biasanya menjadi pendengar yang buruk.” Komentar dari penulis ini diungkapkan karena Bill Gates, saat diberi informasi, tampak tidak fokus dengan apa yang dijelaskan oleh penulis.
Ada beberapa pelajaran dari Microsoft yang diterapkan dalam membesarkan ‘Room to Read’, yaitu:
Berpikir besar yang diterjemahkan dengan dinyatakan pada ‘Room to Read’ “Tujuan kami adalah membantu 10 juta anak mendapatkan hadiah pendidikan seumur hidup.” Teladan dari Amazon yang dirintis oleh Jeff Bezon yang disebut “Toko buku terbesar di dunia” meskipun belum menjual satu buku pun serta bayangan Andrew Carnegie yang mendirikan beberapa ribu perpustakaan di dunia ketiga.
Ada pepatah di Microsoft “Anda tidak bisa menyerang seseorang, tetapi Anda bisa menyerang sebuah ide.” Para pegawai mempunyai kebebasan mengambil keputusan untuk berdebat dengan siapa pun, tentang apa pun, tanpa memperhatikan posisi setiap pribadi dalam struktur perusahaan.
Memiliki keyakinan bahwa segala sesuatu harus diukur (data) dan setiap manajer bisnis meskinya mempelajari setiap keping data yang tersedia mengenai bisnisnya. Kisah tentang Steve Ballmer yang selalu mengejar dengan pertanyaan sebelum memperoleh jawaban yang benar-benar tuntas.
Dalam suatu kesempatan Ballmer bertanya kepada tentang sertifikasi Windows NT di Thailand. “Berapa persen orang lulus ujian versi Thailand yang baru?”
“80 persen”
“Itu baik atau buruk? Saya tidak tahu karena saya tidak tahu angka kelulusan di seluruh dunia sehingga saya tidaj mempunyai data pembanding.”
“Angka kelulusan seluruh dunia 52%. Dalam 6 bulan kita telah bergerajk dari salan satu angka kelulusan terburuk di dunia menjadi salah satu yang tertinggi dan 28 poin di atas rata-rata seluruh dunia.”
Masih ada contoh-contoh lain tentang jawaban yang harus didukung oleh data akurat.
Disebutkan di penghujung buku ini bahwa hasrat adalah pemicu semua itu sebelum muncul niat. Apabila ditelusuri kembali bahwa jawaban “ya” bahwa dia akan kembali membawa buku-buku, membuat dia menjalani kehidupan yang sebelumnya tidak pernah dia bayangkan sekalipun. Di usia 40 tahun, memang cita-cita memiliki rumah di San Fransisco belum tercapai, namun mendapat kepuasan dengan memohon donasi dengan penerbangan berjam-jam, cemas ketika tiba saatnya harus gaji, menghabiskan waktu bersama para donatur setelah melakukan presentasi. Bersyukur dan bahagia adalah hasil akhirnya.
Tuesday, May 6, 2008
Hukum Murphy
Bagi para penumpang bis TransJakarta “akut” di pagi hari pasti pernah melihat koran tipis (16 halaman) cuma-cuma “Jakarta Free”’ yang teronggok rapi pada tempatnya atau dibagikan pada halte-halte bis TransJakarta. Sekarang, perhatikan halaman depan (cover). Di kanan atas akan anda temukan kotak iklan IBM dengan foto wanita Asia yang mengenakan sarung tinju berwarna biru. Postur badan tidak tampak seperti petinju wanita namun disampingnya terdapat teks “You vs. IT challenges, business, dilemmas, and Murphy’s Law.”
Pertanyaan apa itu hukum Murphy rupanya cukup menggelitik rasa ingin tahu. Bunyinya hukum Murphy sangat sederhana (tidak dialihbahasakan agar tidak mengurangi esensi dan rasa hormat terhadap pencetusnya) yaitu: “If anything can go wrong, it will.”
Hukum itu lahir pada tahun 1949 di pangkalan angkatan udara Amerika. Seorang kapten bernama Edward A. Murphy yang menjadi teknisi pada proyek angkatan udara MX981, dimana poyek itu dirancang guna mengetahui berapa besar daya penurunan kecepatan (deceleration) yang dapat ditahan oleh manusia pada saat terjadi kecelakaan pesawat. Suatu hari, setelah menukan sebuah alat tidak berfungsi, dia mencaci teknisi yang bertanggung jawab dengan mengatakan “If there is any way to do it wrong, he’ll find it.” Manajer proyek yang mendengar ‘cacian’ itu mencatat dan disebutnya dengan hukum Murphy. Selama beberapa tahun, dia mengubah menjadi seperti yang dikutip di atas dan diberi nama, sebelum populer dengan sebutan hukum Murphy.
Hukum Murphy terus berkembang ketika orang menambahkan beberapa kata, melakukan modifikasi kecil atau menggunakan pada disiplin ilmu atau bidang tertentu. Janganlah heran apabila ditemukan istilah hukum Murphy di bidang riset, filsafat, termodinamika bahkan hal-hal yang mungkin anda anggap konyol.
Penasaran dengan modifikasi hukum Murphy, coba simak beberapa pengembangan hukum Murphy lewat pernyataan-pernyataan di bawah ini:
- Nothing is as easy as it looks.
- Everytihing takes longer than you think.
- Anything that can go wrong will go wrong.
- Things get worse under pressure. (termodinamika)
- Smile... tomorrow will be worse. (filsafat)
- The chance of the bread falling with the buttered side down is directly proporsional to the cost of the carpet. (seperti anekdot)
- Enough research will tend to support your theory.
Kembali ke iklan IBM di atas. Apa yang dimaksud dengan kalimat tersebut? Rasanya sulit dipahami, menghubungkan hukum Murphy dengan maksud iklan tersebut. Barangkali, IBM lewat komputer-komputer yang diproduksinya dapat menjawab problem-problem sulit dipahami tersebut. Esensi ini yang dapat saya tangkap setelah cukup lama berkutat berusaha memahami hukum Murphy lewat Internet.
Bagi para penumpang bis TransJakarta “akut” di pagi hari pasti pernah melihat koran tipis (16 halaman) cuma-cuma “Jakarta Free”’ yang teronggok rapi pada tempatnya atau dibagikan pada halte-halte bis TransJakarta. Sekarang, perhatikan halaman depan (cover). Di kanan atas akan anda temukan kotak iklan IBM dengan foto wanita Asia yang mengenakan sarung tinju berwarna biru. Postur badan tidak tampak seperti petinju wanita namun disampingnya terdapat teks “You vs. IT challenges, business, dilemmas, and Murphy’s Law.”
Pertanyaan apa itu hukum Murphy rupanya cukup menggelitik rasa ingin tahu. Bunyinya hukum Murphy sangat sederhana (tidak dialihbahasakan agar tidak mengurangi esensi dan rasa hormat terhadap pencetusnya) yaitu: “If anything can go wrong, it will.”
Hukum itu lahir pada tahun 1949 di pangkalan angkatan udara Amerika. Seorang kapten bernama Edward A. Murphy yang menjadi teknisi pada proyek angkatan udara MX981, dimana poyek itu dirancang guna mengetahui berapa besar daya penurunan kecepatan (deceleration) yang dapat ditahan oleh manusia pada saat terjadi kecelakaan pesawat. Suatu hari, setelah menukan sebuah alat tidak berfungsi, dia mencaci teknisi yang bertanggung jawab dengan mengatakan “If there is any way to do it wrong, he’ll find it.” Manajer proyek yang mendengar ‘cacian’ itu mencatat dan disebutnya dengan hukum Murphy. Selama beberapa tahun, dia mengubah menjadi seperti yang dikutip di atas dan diberi nama, sebelum populer dengan sebutan hukum Murphy.
Hukum Murphy terus berkembang ketika orang menambahkan beberapa kata, melakukan modifikasi kecil atau menggunakan pada disiplin ilmu atau bidang tertentu. Janganlah heran apabila ditemukan istilah hukum Murphy di bidang riset, filsafat, termodinamika bahkan hal-hal yang mungkin anda anggap konyol.
Penasaran dengan modifikasi hukum Murphy, coba simak beberapa pengembangan hukum Murphy lewat pernyataan-pernyataan di bawah ini:
- Nothing is as easy as it looks.
- Everytihing takes longer than you think.
- Anything that can go wrong will go wrong.
- Things get worse under pressure. (termodinamika)
- Smile... tomorrow will be worse. (filsafat)
- The chance of the bread falling with the buttered side down is directly proporsional to the cost of the carpet. (seperti anekdot)
- Enough research will tend to support your theory.
Kembali ke iklan IBM di atas. Apa yang dimaksud dengan kalimat tersebut? Rasanya sulit dipahami, menghubungkan hukum Murphy dengan maksud iklan tersebut. Barangkali, IBM lewat komputer-komputer yang diproduksinya dapat menjawab problem-problem sulit dipahami tersebut. Esensi ini yang dapat saya tangkap setelah cukup lama berkutat berusaha memahami hukum Murphy lewat Internet.
TEORI GAIA
Bagi mereka yang menjadi pemerhati iklan atau dejavu bahwa ada iklan Sanyo dengan slogan “Think Gaia. For Life and The Earth.” Istilah Gaia ini sendiri, meskipun cuma terdiri dari empat huruf, namun mengandung makna sangat mendalam bahkan memengaruhi hajat hidup manusia yang tinggal di atas bumi ini. Istilah Gaia diambil dari nama dewi pada mitologi Yunani. Apabila diruntut ke belakang, istilah itu dikemukakan pertama kali oleh James Lovelock pada kisaran awal tahun 1970-an sebagai suatu teori, sebelum populer setelah terbit bukunya yang berjudul Gaia: the new look at life on Earth pada tahun 1979.
James Lovelock adalah seorang ilmuwan sekaligus peneliti bebas NASA mencetuskan hipotesis Gaia ketika mengamati planet Mars. Dikatakan Gaia adalah cara untuk menjelaskan fakta tentang kombinasi-kombinasi dari unsur-unsur kimia termasuk oksigen dan metana dalam konsentrasi stabil yang terdapat di atmosfir bumi. Pengukuran dari kombinasi oksigen dan metana di atmosfir bumi ini dapat dipakai sebagai cara murah dan handal untuk mendeteksi kualitas kehidupan di planet-planet lain. Selanjutnya hipotesis ini berkembang menjadi teori. Teori Gaia menyebut bahwa bumi memiliki kehidupannya sendiri, seperti halnya organisme tunggal, hidup yang sangat besar dan setiap bagian dari ekosistem bereaksi dengan barang-barang lain, meskipun tidak ada hubungan yang jelas. Jika suatu bagian dari sistem mendapat tekanan maka bumi akan bereaksi secara spontan untuk mengatasi problem tersebut. Dengan kata lain, planet bumi ini dapat ‘menyembuhkan’ dirinya sendiri apabila mengalami kerusakan.
Memang kesadaran para penghuni bumi ini baru cukup tergugah ketika bencana alam datang silih berganti di belahan dunia mana pun. Tahun 2004, tsunami yang meluluh-lantakan propinsi Aceh juga melibas Thailand dan Srilanka pada saat bersamaan. Topan Katrina pada Agustus 2005 menghancurkan New Orleans menjadi contoh nyata bahwa negara maju pun tidak berdaya menangkal bencana alam skala besar yang bermula dari teluk Meksiko ini setahun kemudian. Angin puyuh, langsor dan banjir hampir menimpa semua negara mulai dari India, China dan Bangladesh sampai Jerman, Perancis dan Australia pada tahun 2007 ini makin tinggi intensitasnya. Bahkan gempa bumi silih berganti datang ke negara pelanggan tetap seperti Jepang atau negara-negara yang terletak pada sesar-sesar seperti di Amerika Latin, Indonesia bahkan California.
Intensitas gejala alam yang disebut di atas memunyai tren terus meningkat sesuai yang disebutkan dalam buku “The Winds of Change” karya Eugene Linden dan majalah National Geographic edisi Oktober 2007 menyajikan statistik bahwa bumi tempat kita bernaung ini sedang dan terus bergolak., Pada dekade awal abad 20, sebagai contoh, statistik bencana alam selama 10 tahun, kalah jauh jika dibandingkan bencana alam pada, katakanlah, tahun 2007 saja. Tudingan pertama penyebab semua itu adalah pemanasan global yang diakibatkan oleh hancurnya ‘paru-paru’ dunia berupa hutan-hutan Amazon di Brasil dan Kalimantan serta berubahnya hutan menjadi pohon kelapa sawit di Sumatera dan Malaysia. Beruntunglah kita bahwa masih ada hutan di Irian belum terlampau rusak. Rentetan dampak peningkatan suhu di permukaan bumi ini membuat sebagian gunung es di kutub mencair. Selama 100 tahun terakhir, suhu permukaan bumi meningkat 0,74° Celcius. Naiknya panas ini membawa dampak naiknya permukaan air laut 3,1 mm per tahun.
Apabila tidak ada tindakan pencegahan yang mulai harus dilakukan pada hari ini lewat kesadaran orang di seluruh dunia, maka tidak mustahil pada abad mendatang akan terjadi peningkatan suhu antara 1,1° C – 6,4°C. Dampak global yang terjadi adalah perlu tempat pengungsian di lokasi yang lebih tinggi karena penduduk kota-kota besar yang terletak di tepi pantai seperti New York, Tokyo, Hongkong dan tentunya, Jakarta sudah berubah menjadi lautan.
Kesadaran manusia berusaha terus digugah atas kemenangan Al Gore sebagai pemenang Nobel untuk perdamaian tahun 2007. Dalam posisinya sebagai penyuara Uniter Nations’ Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), Al Gore menyuarakan tentang perlunya digalang kekuatan antar negara untuk menanggulangi bahaya karena terus meningkatnya suhu di permukaan bumi. Aktivitas manusia lewat penggunakan bakar hidrokarbon, sebagai contoh, memberi dampak luas terhadap perubahan iklim. Sedikit janggal memang bahwa pemenang Nobel perdamaian bukanlah seorang politisi atau negarawan seperti biasanya namun seseorang yang perduli dengan lingkungan.
Gore berusaha menggugah kesadaran dengan memberikan data. Bukti dan fakta tentang bumi yang mulai tidak nyaman ini yang dipaparkan oleh Al Gore dalam buku maupun DVD yang berjudul ”An Unconvenient Truth: The Crisis of Global Warming.” Data dan fakta yang disajikan menguatkan hipotesis bahwa bumi yang kita semua huni ini sedang berubah dan semua perubahan itu diakibatkan oleh ulah manusia. Banyak tindakan yang dilakukan untuk mengurangi dampak tersebut. Carbon trading, dan sertifikasi (hijau) yang dibuat oleh setiap negara minimal dapat mengurangi dampak, meskipun belum terlalu signifikan.
Teori Gaia dapat disebut sebagai wacana baru guna melihat bumi dan keterhubungannya dengan para penghuni memasuki babak yang selama ini belum pernah dipikirkan. Ditawarkan oleh teori ini adalah wawasan tentang perubahan iklim, pola taman, energi, pertanian, kesehatan yang dapat dikatakan penting atau mendesak.
Bagi mereka yang menjadi pemerhati iklan atau dejavu bahwa ada iklan Sanyo dengan slogan “Think Gaia. For Life and The Earth.” Istilah Gaia ini sendiri, meskipun cuma terdiri dari empat huruf, namun mengandung makna sangat mendalam bahkan memengaruhi hajat hidup manusia yang tinggal di atas bumi ini. Istilah Gaia diambil dari nama dewi pada mitologi Yunani. Apabila diruntut ke belakang, istilah itu dikemukakan pertama kali oleh James Lovelock pada kisaran awal tahun 1970-an sebagai suatu teori, sebelum populer setelah terbit bukunya yang berjudul Gaia: the new look at life on Earth pada tahun 1979.
James Lovelock adalah seorang ilmuwan sekaligus peneliti bebas NASA mencetuskan hipotesis Gaia ketika mengamati planet Mars. Dikatakan Gaia adalah cara untuk menjelaskan fakta tentang kombinasi-kombinasi dari unsur-unsur kimia termasuk oksigen dan metana dalam konsentrasi stabil yang terdapat di atmosfir bumi. Pengukuran dari kombinasi oksigen dan metana di atmosfir bumi ini dapat dipakai sebagai cara murah dan handal untuk mendeteksi kualitas kehidupan di planet-planet lain. Selanjutnya hipotesis ini berkembang menjadi teori. Teori Gaia menyebut bahwa bumi memiliki kehidupannya sendiri, seperti halnya organisme tunggal, hidup yang sangat besar dan setiap bagian dari ekosistem bereaksi dengan barang-barang lain, meskipun tidak ada hubungan yang jelas. Jika suatu bagian dari sistem mendapat tekanan maka bumi akan bereaksi secara spontan untuk mengatasi problem tersebut. Dengan kata lain, planet bumi ini dapat ‘menyembuhkan’ dirinya sendiri apabila mengalami kerusakan.
Memang kesadaran para penghuni bumi ini baru cukup tergugah ketika bencana alam datang silih berganti di belahan dunia mana pun. Tahun 2004, tsunami yang meluluh-lantakan propinsi Aceh juga melibas Thailand dan Srilanka pada saat bersamaan. Topan Katrina pada Agustus 2005 menghancurkan New Orleans menjadi contoh nyata bahwa negara maju pun tidak berdaya menangkal bencana alam skala besar yang bermula dari teluk Meksiko ini setahun kemudian. Angin puyuh, langsor dan banjir hampir menimpa semua negara mulai dari India, China dan Bangladesh sampai Jerman, Perancis dan Australia pada tahun 2007 ini makin tinggi intensitasnya. Bahkan gempa bumi silih berganti datang ke negara pelanggan tetap seperti Jepang atau negara-negara yang terletak pada sesar-sesar seperti di Amerika Latin, Indonesia bahkan California.
Intensitas gejala alam yang disebut di atas memunyai tren terus meningkat sesuai yang disebutkan dalam buku “The Winds of Change” karya Eugene Linden dan majalah National Geographic edisi Oktober 2007 menyajikan statistik bahwa bumi tempat kita bernaung ini sedang dan terus bergolak., Pada dekade awal abad 20, sebagai contoh, statistik bencana alam selama 10 tahun, kalah jauh jika dibandingkan bencana alam pada, katakanlah, tahun 2007 saja. Tudingan pertama penyebab semua itu adalah pemanasan global yang diakibatkan oleh hancurnya ‘paru-paru’ dunia berupa hutan-hutan Amazon di Brasil dan Kalimantan serta berubahnya hutan menjadi pohon kelapa sawit di Sumatera dan Malaysia. Beruntunglah kita bahwa masih ada hutan di Irian belum terlampau rusak. Rentetan dampak peningkatan suhu di permukaan bumi ini membuat sebagian gunung es di kutub mencair. Selama 100 tahun terakhir, suhu permukaan bumi meningkat 0,74° Celcius. Naiknya panas ini membawa dampak naiknya permukaan air laut 3,1 mm per tahun.
Apabila tidak ada tindakan pencegahan yang mulai harus dilakukan pada hari ini lewat kesadaran orang di seluruh dunia, maka tidak mustahil pada abad mendatang akan terjadi peningkatan suhu antara 1,1° C – 6,4°C. Dampak global yang terjadi adalah perlu tempat pengungsian di lokasi yang lebih tinggi karena penduduk kota-kota besar yang terletak di tepi pantai seperti New York, Tokyo, Hongkong dan tentunya, Jakarta sudah berubah menjadi lautan.
Kesadaran manusia berusaha terus digugah atas kemenangan Al Gore sebagai pemenang Nobel untuk perdamaian tahun 2007. Dalam posisinya sebagai penyuara Uniter Nations’ Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), Al Gore menyuarakan tentang perlunya digalang kekuatan antar negara untuk menanggulangi bahaya karena terus meningkatnya suhu di permukaan bumi. Aktivitas manusia lewat penggunakan bakar hidrokarbon, sebagai contoh, memberi dampak luas terhadap perubahan iklim. Sedikit janggal memang bahwa pemenang Nobel perdamaian bukanlah seorang politisi atau negarawan seperti biasanya namun seseorang yang perduli dengan lingkungan.
Gore berusaha menggugah kesadaran dengan memberikan data. Bukti dan fakta tentang bumi yang mulai tidak nyaman ini yang dipaparkan oleh Al Gore dalam buku maupun DVD yang berjudul ”An Unconvenient Truth: The Crisis of Global Warming.” Data dan fakta yang disajikan menguatkan hipotesis bahwa bumi yang kita semua huni ini sedang berubah dan semua perubahan itu diakibatkan oleh ulah manusia. Banyak tindakan yang dilakukan untuk mengurangi dampak tersebut. Carbon trading, dan sertifikasi (hijau) yang dibuat oleh setiap negara minimal dapat mengurangi dampak, meskipun belum terlalu signifikan.
Teori Gaia dapat disebut sebagai wacana baru guna melihat bumi dan keterhubungannya dengan para penghuni memasuki babak yang selama ini belum pernah dipikirkan. Ditawarkan oleh teori ini adalah wawasan tentang perubahan iklim, pola taman, energi, pertanian, kesehatan yang dapat dikatakan penting atau mendesak.
Subscribe to:
Posts (Atom)
