Monday, May 12, 2008

Meninggalkan Microsoft Memulai ‘Room to Read’


Anda menyukai kisah petualangan? Cobalah membaca buku ”Leaving Microsoft to Change the World” karya John Wood. Buku ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian Pertama adalah kisah perjalanan John Wood di kala mengambil cuti, ketika masih bekerja di Microsoft, memilih menghabiskan liburan di tempat terpencil, Nepal. Bagian kedua, berkisah tentang awal-awal merintis apa yang kelak disebut ‘Room to Read.’ Mulai dari kebimbangan dalam mengambil keputusan untuk meninggalkan Microsoft, kesulitan menggalang dana, mencari orang dengan misi sama dan punya komitmen di negara-negara tempat beroperasi. Termasuk di sini adalah kiat-kiat yang menjadi pengalaman saat masih di Microsoft dipraktekkan guna membesarkan ‘Room to Read.’ Bagian ketiga, adalah langkah-langkah untuk menjaga momentum kedermawanan global, kehidupan pribadi yang dirasakan amburadul namun memperoleh kegembiraan dan kepuasan mendalam, perjalanan terus-menerus ke negara-negara donor atau negara-negara dimana peristiwa pembukaan sekolah baru, perpustakaan baru masih diselingi dengan suasana donasi di Amerika paska 11 September 2001. Tsunami pada penghujung tahun 2004 yang membawa banyak korban manusia di Indonesia, Thailand, India dan Srilanka serta meluluh-lantakkan bangunan dan prasarana di tepi pantai, termasuk sekolah-sekolah, mampu membuat negara Srilanka masuk ke dalam target ‘Room to Read’ tanpa banyak waktu untuk berpikir lagi. Saat ini ‘Room to Read’ banyak beroperasi di negara-negara di benua Asia seperti Nepal, Vietnam, India, Kamboja dan Srilanka.
---o0o---

Penulis menuturkan perjalanan hidupnya ini diawali ketika menginap di losmen kecil bertemu dengan tamu lain yang menginap, guna melanjutkan perjalanan. Tanpa mengetahui pekerjaan tamu itu, namun karena jalan yang akan dilalui sama, maka berdua mereka sepakat berangkat bersama keesokan harinya. Terlihat perbincangan selama diperjalanan, sebelum diketahui bahwa dia adalah seorang pegawai pemerintah Propinsi Lamjung bernama Pasupathi yang bertanggung jawab untuk menemukan sumber-sumber daya bagi 17 sekolah di Propinsi pedalaman ini. Paparan orang ‘dalam’ tentang anak-anak putus sekolah, angka buta huruf Nepal yang ternyata tertinggi di dunia membuka keingintahuan penulis untuk meninjau sekolah yang akan dikunjungi oleh Pasupathi. Dalam perjalanan itu, mereka berbincang sebelum sampai di sekolah. Penulis paling terkesan setelah melihat bagian ‘sakral’ sekolah yang disebut perpustakaan. Ruangan yang paling rahasia ini, karena dikunci rapat, hanya berisi buku ‘peninggalan’ turis yang tidak layak dibaca anak-anak. Kondisi memprihatikan ini mampu membuat penulis terkenang dengan masa kecil, dimana, baginya, perpustakaan adalah tempat untuk menimba ilmu dari buku. Dengan keterbasan dana pribadi untuk membeli buku, maka perpustakaan umum di kota yang cukup jauh dijalani dengan mengendarai sepeda dan masih berkutat dengan kuota jumlah buku yang dapat dibawa pulang. Ingatan masa kecil ini menggugah nurani penulis untuk membantu pengadaan buku terlebih setelah guru bahasa Inggris mengatakan “Kami mohon, Pak, saat Anda kembali nanti dengan buku-buku. Anda akan disambut dengan gembira, kepala mereka akan membentur langit-langit karena melompat-lompat kegirangan.”




Permohonan sederhana yang diucapkan ini ternyata mampu memberi kesan mendalam baginya, karena menjelang pergi dari Kathmandu, menyempatkan diri mengirim email kepada teman, kenalan dan orang tuanya tentang keinginannya mengumpulkan buku-buku bacaan anak-anak bekas yang dapat didonasikan kepada anak-anak sekolah di Nepal. Lewat email kepada para teman-teman dan kedua orang tuaya digalang pengumpulan buku bekas. Ayahnya di Amerika, sangat antusias dengan gagasan itu, dan hal ini justru mampu mencairkan hubungannya dengan sang ayah. Sudah sejak lama tidak terlibat pembicaraan intim, namun dalam proyek ini sama-sama saling tolong bahkan berangkat bersama ke Nepal untuk membagikan buku serta menyaksikan pembangunan gedung sekolah.

Hal yang menarik adalah ketika dirinya berpikir untuk meninggalkan Microsoft. Di Microsoft, penulis menduduki pos penting di Sydney sebelum dipindahkan ke Beijing guna lebih mudah mengawasi Asia Pasifik. Beijing yang disebutnya tidak mempunyai udara bersih. Hal ini cukup mengganggunya, karena dia seorang pelari jarak jauh dan peserta marathon di Boston. Tidak dapat langsung menuruti kehendak hatinya, dengan beraksi sosial, karena ada dua hal yang cukup memberatkan baginya, sebelum mengambil keputusan meninggalkan Microsoft, yaitu hubungan dengan atasan dan teman wanitanya. Kepada atasan, relatif mudah diselesaikan, dengan alasan yang sedikit masuk akal. (Ingat: untuk bekerja di Microsoft tidak mudah), maka dia dapat melenggang bebas. Kepada teman wanita yang saudah membina hubungan selama setahun relatif lebih sulit. Sempat diwarnai keributan,namun setelah mengetahui alasan dan keinginan masing-masing pihak, maka akhirnya proses itu pun dapat dilalui.
Konflik batin paling ‘parah’ terjadi ketika bersama ayahnya membagikan buku di Nepal. Satu sisi, ada perasaan bangga mendapat tugas di Beijing dengan tugas memasarkan Window di Taiwan, mencanangkan program anti penbajakan di China dan merintis e-commerce di Hongkong, sedang pada sisi lain ada jutaan anak tidak mempunyai akses buku dan 7 dari 10 anak buta huruf seumur hidup.

Pada bagian akhir, diresapi perasaan puas, lega dan bersyukur. Tidak diduga dari semula bahwa apa yang dirintis, pada awalnya, hanya kebahagiaan melihat anak-anak sekolah mampu bersekolah, membangun tambahan gedung sekolah untuk menampung mereka yang belum dapat menikmati pendidikan, memberi bantuan bea siswa dan sekolah tersebut memiliki perpustakaan, ternyata berkembang begitu pesat dan cepat. Bayangan rasa lelah saat melakukan perjalanan naik pesawat lintas benua tanpa kunjungan dan meresmikan sekolah-sekolah di tempat terpencil terobati ketika menyaksikan itu semua.
Apakah semua itu merupakan panggilan jiwa karena pada waktu kakinya menginjak Nepal, penulis sedang membaca buku, “Art of Happiness”-nya Dalai Lama?

Ada kutipan menarik dari Paul Theroux yang disebutkan oleh penulis saat dia memberi informasi tentang Microsoft di China, menjelang kunjungan Bill Gates ke Beijing, melakukan wawancana guna disiarkan ke jaringan TV lokal, “Setelah manusia menghasilkan banyak uang, dia biasanya menjadi pendengar yang buruk.” Komentar dari penulis ini diungkapkan karena Bill Gates, saat diberi informasi, tampak tidak fokus dengan apa yang dijelaskan oleh penulis.


Ada beberapa pelajaran dari Microsoft yang diterapkan dalam membesarkan ‘Room to Read’, yaitu:

Berpikir besar yang diterjemahkan dengan dinyatakan pada ‘Room to Read’ “Tujuan kami adalah membantu 10 juta anak mendapatkan hadiah pendidikan seumur hidup.” Teladan dari Amazon yang dirintis oleh Jeff Bezon yang disebut “Toko buku terbesar di dunia” meskipun belum menjual satu buku pun serta bayangan Andrew Carnegie yang mendirikan beberapa ribu perpustakaan di dunia ketiga.
Ada pepatah di Microsoft “Anda tidak bisa menyerang seseorang, tetapi Anda bisa menyerang sebuah ide.” Para pegawai mempunyai kebebasan mengambil keputusan untuk berdebat dengan siapa pun, tentang apa pun, tanpa memperhatikan posisi setiap pribadi dalam struktur perusahaan.
Memiliki keyakinan bahwa segala sesuatu harus diukur (data) dan setiap manajer bisnis meskinya mempelajari setiap keping data yang tersedia mengenai bisnisnya. Kisah tentang Steve Ballmer yang selalu mengejar dengan pertanyaan sebelum memperoleh jawaban yang benar-benar tuntas.

Dalam suatu kesempatan Ballmer bertanya kepada tentang sertifikasi Windows NT di Thailand. “Berapa persen orang lulus ujian versi Thailand yang baru?”
“80 persen”
“Itu baik atau buruk? Saya tidak tahu karena saya tidak tahu angka kelulusan di seluruh dunia sehingga saya tidaj mempunyai data pembanding.”
“Angka kelulusan seluruh dunia 52%. Dalam 6 bulan kita telah bergerajk dari salan satu angka kelulusan terburuk di dunia menjadi salah satu yang tertinggi dan 28 poin di atas rata-rata seluruh dunia.”

Masih ada contoh-contoh lain tentang jawaban yang harus didukung oleh data akurat.

Disebutkan di penghujung buku ini bahwa hasrat adalah pemicu semua itu sebelum muncul niat. Apabila ditelusuri kembali bahwa jawaban “ya” bahwa dia akan kembali membawa buku-buku, membuat dia menjalani kehidupan yang sebelumnya tidak pernah dia bayangkan sekalipun. Di usia 40 tahun, memang cita-cita memiliki rumah di San Fransisco belum tercapai, namun mendapat kepuasan dengan memohon donasi dengan penerbangan berjam-jam, cemas ketika tiba saatnya harus gaji, menghabiskan waktu bersama para donatur setelah melakukan presentasi. Bersyukur dan bahagia adalah hasil akhirnya.

No comments: