HOT LINE
Istilah Hot Line sering kita dengar, namun makna dari kata itu sendiri tidak banyak diketahui orang. Untuk mengetahui terciptanya istilah ini perlu dirunut ke belakang.
Setelah Perang Dunia II, terjadi perang dingin antara Amerika dengan Uni Soviet (sekarang Rusia). Henry Kissinger dalam kapasitasnya sebagai sekretaris negara menyatakan bahwa terbuka peluang terjadi konflik dalam diplomasi pada era nuklir. Nuklir sudah menjadi senjata andalan masing-masing pihak dan cukup dengan memecel tombol peluncur kepala nuklir, maka perang nuklir dapat pecah sewaktu-waktu. Dengan pertimbangan bahwa perang dapat terjadi karena segelitir orang yang tidak mampu mengelola peristiwa-peristiwa yang mengecewakan dirinya. Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya ‘salah komunikasi, maka dibuat saluran telepon khusus yang menghubungkan Moskow dan Washington yang disebut kemudian dikanal dengan sebutan “hot line” pada tahun 1963.
Setahun sebelumnya, terjadi krisis misil di Kuba. Konfrontasi dipicu oleh kehadiran misil Soviet di Kuba yang dapat menyeret dunia dalam kehancuran karena perang nuklir. Setelah cara diplomasi dan kepala dingin gagal diperoleh, kedua pihak sadar akan bahaya perang besar yang terjadi hanya karena metode-metode komunikasi mereka tidak efektif. Sebagai contoh, duta besar Soviet di Washington, dalam masa panas ini, dipaksa untuk naik sepeda guna mengambil pesan-pesan penting dari Moskow ke kantor pos setempat karena fasilitas angkutan di boikot.
Pada masa presiden Kennedy dipasang hot line. Bukan berupa telepon warna merah, satu di Kremlin dan satu Gedung Putih yang berada di laci. Hot line pertama ini adalah teletype yang menggirim pesan dalam bentuk kertas berlubang (punch) dengan kecepatan 1 lembar setiap 3 menit. Sistem ini baru diganti dengan satelit dan kabel laut pada akhir tahun 1970-an. Perintah pertama datang dari Pentagon yang dikirimkan ke Presiden dalam bentuk kode, sebelum diverifikasi dan dikirim - setelah kembali diubah menjadi kode-kode, ke Moskow. Pesan dari Amerika ke Soviet dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris, menggunakan huruf Latin, sedang pesan dari Moskow ke Washington dialihbahasakan ke dalam bahasa Rusia menggunakan karakter-karakter Cyrillic.
Dalam hot line, tulisan yang digunakan bukan berupa transmisi suara atau video. Alasan bahwa tulisan dapat mengurangi pengiriman yang kurang sempurna dari pesan-pesan maha penting selain menghindari bahasa tubuh orang atau intonasi yang mudah disalahartikan. Selain pada saat-saat menjelang perjanjian pelucutan senjata, hot line digunakan oleh kedua negara ini ketika pecah perang antara Israel dan Arab, krisis India – Pakistan, agresi Soviet ke Afgranistan.

No comments:
Post a Comment