Monday, February 11, 2008

Awal Kisah Steve Job (Pendiri Apple)

Tiga Kisah Kehidupan Steve P. Job
(Diringkas dari Fortune tanggal 4 September 2005)

Dalam pidato singkatnya, Steve P. Job, pendiri, penemu sekaligus CEO komputer Apple, pada acara wisuda sarjana di Stanford, menyebutkan bahwa ada 3 jenjang kehidupan (yang disebut kisah) yang memberi makna begitu mendalam pada dirinya maupun kepada dunia komputer sebagai dampak tidak langsungnya.

Kisah 1: ‘Menghubungkan titik-titik’ (Connecting the dots)
Saya menjadi mahasiswa drop-out karena, namun jika ditelusuri lebih jauh, lebih menyangkut masalah ibu biologis. Saya lahir dari rahim seorang ibu seorang mahasiswi belum lulus dan menyerahkan saya sebagai anak adopsi. Dia berharap saya dipungut oleh pasangan lulusan sarjana. Saya menjadi anak pungut, namun karena ternyata ibu angkatku bukanlah seorang sarjana, maka dia menolak menandatangani dokumen adopsi. Dia baru mau menandatangai dukumen itu setelah ibu angkatku berjanji akan membiayai saya kuliah beberapa bulan kemudian.
Saya akhirnya masuk kolege mahal seperti Stanford, dengan biaya kuliah yang memberatkan kedua orangtuaku. Setelah 6 bulan, saya memutuskan untuk ke luar setelah kuliah tidak mampu memberi panduan tentang apa tujuan hidup ini. Mulai tidur di tempat teman dan berjalan 7 mil setiap minggu untuk mendapatkan makanan dari kuil Hare Krishna. Setelah berlangsung beberapa bulan saya masuk kolege Reed untuk mempelajari kaligrafi. Saya belajar tentang apa beda serif dan sans serif, dan menemukan bahwa hal itu ternyata menarik.
Keahlian ini baru terpakai ketika pertama kali Mac dirancang. Tulisan indah dengan berbagai tipe adalah keunggulan sebelum ditiru oleh Windows.
Anda tidak dapat ‘menghubungkan titik-titik’ dengan melihat ke masa depan, namun dari masa lalu. Anda harus mempercayai naluri, nasib, kehidupan yang menjadi milik anda.

Kisah 2: Kecintaan dan kehilangan
Kecintaan dimulai ketika bertemu dengan Steve Wozniak guna memulai (usaha) komputer Apple pada umur 20 tahun. Bermula dari sebuah garasi sampai menjadi usaha besar dengan 4000 karyawan. Ketika itu Mac dirilis, namun pada saat itu pula, pada usia 30 tahun, saya dipecat oleh orang yang saya rekrut sendiri (John Sculley, eksekutif puncak Pepsi) untuk memajukan Apple. Apa yang anda rasakan ketika visi anda ke depan runtuh seketika, ketika para pemegang saham berpihak padanya. (Anda dapat membaca kisah ini secara lengkap dan jelas pada buku karya John Sculley, Odyssey: Pepsi to Apple, A Journey of Adventure, Ideas and the Future).
Setelah selama 5 tahun tidak dapat berpikir dengan tenang, akhirnya saya menemukan kegembiraan baru dengan mendirikan NeXT dan Pixar. Pada saat ini, saya bertemu dengan wanita yang kelak menjadi istriku. Pixar sukses besar memproduksi film animasi Toy Story, sebelum dibeli oleh Apple, dimana hal ini mengawali kembalinya saya kepada Apple.
Pesan: “Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work”

Kisah 3: Kematian
Saat masih remaja saya pernah membaca pepatah “If today were the last day of my life, would I want to do what I am about to do today.” Tahun lalu saya didiagnosis dan ditemukan tumor pada pankreas. Awalnya dokter mengatakan bahwa kanker itu tidak dapat disembuhkan dan hidupku hanya 3 sampai 6 bulan terhitung dari sekarang. Selanjutnya, saya harus didiagnosis setiap hari sampai akhirnya dilakukan biopsi dan diketahui bahwa kanker itu dapat disembuhkan dengan jalan operasi. Perasaan dan vonis “Bersiaplah untuk meninggal” ini membuat waktu anda untuk memberi tahu segala sesuatu kepada istri atau anak-anak anda menyusut dari beberapa dekade menjadi hanya beberapa bulan.
Pesan: “Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t trapped by dogma – which is living with the resulted of other people’s thinking.”

No comments: