Tuesday, June 12, 2007

Ren Coaching From Eva Wong

Wong, Eva and Leung, Lawrence, The Power of Ren. China’s Coaching Phenomenon, John Weley & Sons, Singapore, 2007.

REN Coaching

For make interpretation look character Ren (in Chinese) that mean people

REN consist:
a) 2 aspects:
(Outer) → Knowledge & Skills
(Inner) → Belief & Attitude

b) 3 pillars:
Yin (cause & effect) → WHY – self-motive, life purpose (GOAL)
Tao (the way) → HOW – way that synchronize with inner self. (ACTION)
Shu (tolls, methods, skills)→ WHAT – to fulfill (RESULT)

Framework: 9-Dots Leadership®
Kesembilannya dapat dihubungkan lewat 4 garis lurus bermula dari passion, commitment, responsibility, appreciation, giving, trust, win-win, (Passion), enrollment, possibilities

Passion
(True value, Freedom of choice, self-expression)
Commitment
(Self discipline, integrity, focused attention)
Responsibility
(Non-separation, willingness, initiative)
Win-Win
(Perspective, respect, compassion)
Enrollment
(Dreams, manifestation, inspiration)
Appreciation
(love, cherish ourselves, acceptance)
Trust
(Creation, fearlessness, relinquishing control)
Giving
(Selfishness, joy, selflessness)
Possibilities
(nothingness, humility, inquiry)

Passion (Gairah)
(Jujur pada diri sendiri adalah kunci bagi passion. Lewat kata dan perbuatan yang dapat menular kepada siapa pun. Orang yang membenci tantangan bukanlah orang yang memiliki passion. Saat ketiga komponen di bawah ini menyatu, maka diri kita dipenuhi dengan gairah).

True values (seperti Gandhi, apa nilai-nilai hakiki yang saya genggam erat?)
Freedom of Choice (kita bebas memilih untuk gembira, misal, semua hak itu ada di tangan kita, bukan faktor-faktor eksternal).
Self-expression (mengungkapkan diri tanpa ditutup-tutupi)


Commitment
(Mengandung 2 hal, seperti dua karakter pembentuknya, keinginan untuk mengatasi hambatan dan memberi janji)

Self-discipline (keinginan yang sudah dijabarkan menjadi komitmen harus diubah lewat disiplin diri.
Integrity (ucapan kita kepada orang lain bahwa kita akan melakukan sesuatu adalah kontrak psikologis dengan mereka dan kontrak ini ditunggu untuk dipenuhi. Jika komitmen kita hanya sebatas ucapan saja, maka kita secara sepihak merobek kontrak dan mereka tidak akan menaruh kepercayaan dan percaya kepada kita. Tindakan-tindakan kita di masa lalu dipakai sebagai dasar bagi pengharapan orang. Dengan kata lain, tindakan kita adalah dasar integritas kita).
Focused Attention (Rumus dari Timothy Gallwey, pelatih tenis, adalah: P = p – i, “Performance = potensial – interference”. Makin banyak gangguan atau campur tangan, maka Performance rendah. Bagaimana kita mengenali i ini. Kepercayaan atau konsep-konsep – dari dalam diri - yang tidak terkait dengan tujuan adalah i. Tindakan yang menyertai janji yang diberikan, perlu fokus untuk meraihnya. Buang semua bentuk i, maka kita bisa mengambil tindakan sesuai kontrak psikologikal milik kita).

Responsibility
(Lebih mudah mengidentifikasi tanggung-jawab untuk orang lain daripada untuk diri sendiri. Ada 3 penyebab ‘beratnya’ orang memegang tanggung jawab, yaitu: perilaku antara kehidupan dan masalah; merealisasikan rasa tanggung-jawab dari dalam diri kita yang tidak dapat dialihkan kepada orang lain; semua tindakan kita adalah hasil dari pilihan-pilihan yang kita ambil sepenuhnya adalah akibat pilihan-pilihan ini dan kita tidak dapat menyalahkan faktor-faktor eksternal).

Non-separation (Budha mengatakan bahwa:“Apabila kita tidak merangkul tanpa-pemisahan, maka akan ada kedamaian dalam hati kita.” Pemisahan adalah akibat dari polarisasi antara bertindak dan diam, suka dan tidak suka. Pikiran manusia mudah terkecoh oleh yang dirasa oleh panca indra dan pikiran dan hal ini membuat mereka mudah menghakimi. Misal: Matanya tampak licik, maka saya tidak menyukainya.
Willingness (ketika rasa tanggung-jawab sudah menjadi perilaku, maka muncul spirit kemauan dari dalam hati. Sikap ini memberi kita kebebasan memilih gaya hidup kita karena semua berawal dan berakhir dari “Aku.” Kita tidak mengeluh dan tidak menyalahkan orang lain untuk apapun yang sudah menjadi pilihan kita. Kita semua itu sebagai tanggung jawab diri kita.
Initiative (Tanggung-jawab tidak sama dengan tindakan. Namun ketika kita mau berinisiatif, maka hati kita terasa ringan dan tidak ada keluhan).

Appreciation
(Untuk mengetahui apresiasi sejati, kita harus melakukan transedensi terhadap standar-standar nilai. Kita belajar menghargai lebih dari sekedar baik atau buruk, indah atau jelek, karena akhirnya kita dapat melihat manfaatnya. Lewat apresiasi, pemimpin dapat merebut hati, dapat dengan mudah mengetahui bakat-bakat orang dan menggunakan seefektif mungkin. Apresiasi memunculkan gairah dan antusias seluruh tim. Ketika pemimpin memberi apresiasi, maka mereka yang dapat akan meningkat rasa percaya dirinya dan akan menular dan mampu meningkatkan moral.)

Love (Cinta melekat dalam diri dan kemampuan kita untuk mencintai tak terhingga – teristimewa mengenali tidak ada pemisahan segala sesuatu; segalanya relatif dan tidak mutlak. Mengapresiasikan cinta diikuti dengan memberi perhatian pada orang lain dan mencintai kekuatan-kekuatan mereka. Bukan memaksakan nilai-nilai anda kepada mereka. Kita seringkali sibuk mencari orang yang mau mencintai kita dan ini bukan bentuk cinta tapi “bergantung pasif.” Cinta fokus pada orang lain sedang suka fokus pada diri sendiri. Apresiasi terjadi lewat cinta.
Cherish ourselves and others (apresiasi berarti memilih untuk melihat kekuatan-kekuatan orang lain dan melihat dari sisi baik. Proses ini berawal dari dalam diri. Hanya jika kita mampu menghargai diri kita, maka orang lain akan menghargai pula.
Acceptance (pemimpin yang selalu mengatakan “tidak:, tidak mengetahui bagaimana menghargai orang lain dan lewat penolakan mereka menunjukkan promblen superioritas (superiority complex). Apresiasi tidak dapat diekspresikan lewat penolakan namun lewat penerimaan. Penolahan bibit perasaan gagal dan membuat diri kita tanpa daya. Apresiasi adalah menerima orang lain untuk keunikan mereka, mampu meningkatkan tingkat toleransi yang disampaikan lewat senyum, tepukan di pundak dan kata-kata penyemangat.

Giving
(Sangat manusiawi bila saat kita memberi kita mengharapkan balasan. Mental memberi dan menerima adalah beda. Guna menyembatani keduanya diperlukan ‘investasi’ ditengah. Kerelaan tidak perlu ‘investasi’ namun jika mengharapkan balasan, maka perlu investasi. Lewat investasi kita mengharapkan imbalan tentunya ada risiko tidak kembali. Jika kita terlalu menekankan pada imbalan, maka ini adalah bentuk lain dari menerima bukan memberi).

Selfishness (menempatkan orang lain sebelum diri sendiri adalah salah satu bentuk sukses misi spiritual lewat kepuasan diri yang didapat)
Joy (kita gembira ketika semua orang gembira, dan proses memberi mereka kegembiraan mampu memberi kegembiraan tersendiri bagi diri kita)
Selflessness (adalah bentuk dari memberi. Saat ego berperan, kita tidak memberi tapi menerima. Memberi punya imbalan tersendiri dan ego tidak ada di sana. Tanpa ego, bukan berarti diri kita tidak penting, namun lebih menunjuk kemampuan untuk memberi. Guna meraih tujuan ada dua cara: menempatkan kepentingan diri di atas orang lain atau membantu orang lain meraih tujuan mereka terlebih dahulu, sebelum meraih tujuan diri. Hasil yang dituju sama, namun proses berbeda maka hasil akhir yang diperoleh sangatlah berbeda.

Trust
(mengandung 2 arti yaitu keyakinan (psikologi) dan interaksi (sosiologi). Kita harus memberi kepercayaan dalam upaya untuk menemukannya).

Creation (Ketika kepercayaan diberikan secara tuntas, ini adalah bentuk penciptaan. Hal ini memciptakan keterhubungan baru, kesempatan baru, cara hidup baru untuk saling-mendukung dengan orang lain secara mutual.
Fearlessness (Tidak takut adalah konsekuensi lanjutan dari kepercayaan. Perasaan tidak nyaman adalah dasar dari kurang percaya diri, namun keduanya berjalan seiring. Keberanian adalah manifestasi dari kemampuan paling dasar untuk mengembangkan kepercayaan.
Relinquishing Control (Kepercayaan bukanlah konsep tapi pengalaman, Konsep mudah didefinikan lewat berbagai cara namun pengalaman adalah langsung. Situasi dan orang tertentu mungkin membuat diri kita merasa tidak nyaman, sebaliknya jika kita merasa nyaman, maka pengalaman kita menyebutkan untuk percaya.

Win-Win
(Para pemimpin yang tidak menyadari strategi menang-menang akan mengerahkan segala upaya menjatuhkan pesaing, mengenyahkan musuh dari pasar. Nyatanya yang dialami adalah kalah-kalah. Adalah tidak mungkin, dalam bisnis masa ini, sukses sendirian, karena semuanya saling bergantung satu dengan lainnya).

Perspective (Alam semesta ini adalah sistem tunggal. Dengan berdiri di atas, kita bisa mengetahui perspektif dan melihat segala sesuatunya saling berkaitan. Hal ini memungkinkan melakukan teroboasan dari berpikir “Aku menang” menjadi menang-menang).
Respect (Bekerjasama dalam situasi menang-menang menuntut syarat kita semua sama dan akhirnya terjadi saling menghormati. Menaruh hormat berarti tidak memaksakan kehendak kita kepada orang lain, dan akhirnya terjadi kooperasi dan dibangun lewat komunikasi)
Compassion (Rasa ikut prihatin membuka diri kita untuk mengetahui adanya perbedaan diantara kita, melihat permasalahan dari sudut pandang orang lain sehingga timbul rasa ikut menghargai sebelum terjalin keterhubungan yang erat. Pemimpin dengan mental menang-menang mampu mengkombinasikan pendekatan manusia yang beroreintasi pada kepuasan dan kenyamanan dengan pendekatan tugas yang berorientasi pada pencapaian tujuan.

Enrollment (menjadi anggota)
(Merupakan lawan dari rekruitmen. Kita merekrut kita menyebut “Aku perlu kamu.” Namun menjadikan anggota (enroll) orang adalah kita membuat mereka tertatik dan memberi inspirasi secara sukarela bekerja di tempat kita. Inti dari enroll adalah mengstimulasikan mimpi-mimpi orang dan membangkitkan semangat mereka lewat inisiatif diri. Kepemimpinan riil adalah kekuatan enroll dan kepemimpinan dimanifestasikan lewat enroll. Enrollment adalah kemampuan untuk mempengaruhi dan mengubah sikap serta mendorong orang bertindak secara sukarela. Berbeda dengan persuasi yang dimaksudkan untuk mengubah perilaku dan tindakan orang pada arah tertentu. Enroll adalah daya yang membuat tim bertindak menang-menang dengan mengstimulasikan mimpi-mimpi mereka dan pemimpin memberi inspirasi)

Dreams (Tahap awal enrollment adalah menemukan mimpi. Sering mimpi itu adalah sesuatu yang jelas dan sederhana. Ada 2 jenis enrollment: 1) mimpi kita distumulasikan dan kita secara sukarela mengejarnya dan mereka yang yang ikut bukan bagian dari proses meraih mimpi – seperti orang tua membimbing anaknya; 2) adalah enrollment dimana pencetus inspirasi ikut terlibat dalam prosesnya. Coaching adalah bentuk pertama enrollment dimana pelatih membantu klien mengenali kekayaan nyata mereka, mendifinisikan mimpi, tujuan hidup dan bertindak untuk meraihnya. Pemimpin, sebaliknya, enroll orang agar tidak kenal lelah mengejar mimpi bersama. Jika kita mempunyai mimpi, maka kita akan memiliki gairah [passion] dan komitmen. Mau menerima responsibility dan memberi appreciation kepada orang-orang disekitar kita. Kita menciptakan trust dan bermental win-win. Dengan ini semua, kita menawarkan lebih banyak passion, enroll lebih banyak orang dan menemukan kesempatan-kesempatan baru)
Manifestation (Kita mau mengubah perilaku kita jika kita dapat melihat manfaat melakukan hal itu dengan mengamati pengalaman orang lain. Manifestasi adalah inti dari enrollment)
Inspiration (Apakah mengstimulasi cita-cita seseorang atau mengstimulasikan cita-cita kolektif, kondisi mendasar bagi suatu keberhasilan adalah mengubahnya menjadi tindakan. Cara efektif adalah lewat inspirasi. Membangkitkan spirit enrollmen adalah suatu sikap dan kemampuan internal, namun ekspresi eksternal adalah kekuatan inspirasi. Lewat inspirasi kita bisa membantu orang lain untuk mengindetifikasikan mimpi-mimpi mereka dan diekspesikan ke luar. Kita dapat meng-enroll mereka untuk bertindak dan bergabung menempuh perjalanan bersama.

Possibilities
(Kehidupan selalu berubah dan hal ini biasanya dibatasi oleh kepercayaan yang kita anut atau percayai, yang hanya mampu melihat kesempatan-kesempatan pada situasi-situasi tertentu. Jika kita mampu mengenyahkan kepercayaan-kepercayaan itu, kita menciptakan kesempatan-kesempatan bagi diri kita).

Nothingness (Guna merangkul kesempatan-kesempatan, lupakan model-model, buang batasan-batasan dan carilah kekosongan, yaitu ruang yang memungkinkan kita malekukan hal-hal tanpa batas. Saat pemimpin berbicara tentang ketiadaan ini, dia berniat meninggalkan masa lalu, membuang kepercayaan, pandanfan dan keputusan guna memulai hal-hal baru dari awal lagi. Lewat cara ini mereka mampu melintasi pengalaman masa lalu dan membuka kehidupan mereka bagi kesempatan-kesempatan baru.
Humility (Ketika kita bergantung pada pengalaman masa lalu, kita terperangkap pada tempat dengan pandangan terbatas. Kita berpikir bahwa kita sudah melihat semua dan bereaksi sesuai dengan apa yang kita yakini. Konfusius mengatakan: “Only when a person has traveled far and climbed high wall he be humble.”
Inquiry (Saat kita berpikir bahwa kita sudah melihat segala sesuatu, dan kita mengetahui bahwa semua itu sudah diketahui, kita terperangkap dalam masa lalu dan menjadi arogan dan bertahan, buta pada kesempatan-kesempatan baru. Campakkanlah masa lalu, saya mencari solusi dan merencanakan kehidupan masa depan. Pada posisi ini kesempatan-kesempatan tak terbatas muncul.

Jakarta, 7 Januari 2007

Handjojo

No comments: